Bethoven

Pada usia empat puluhan Beethoven menjadi seratus persen tak bisa mendengar.Akibatnya, dia tak pernah lagi tampil di muka umum dan semakin menjauhi masyarakat. Hasil karyanya semakin sedikit dan semakin sulit di fahami. Sejak itu dia mencipta terutama buat dirinya sendiri dan beberapa pendengar yang punya ideal masa depan. Dia pernah bilang kepada seorang kritikus musik, “Ciptaanku ini bukanlah untukmu tetapi untuk masa sesudahmu.”

Ini merupakan ironi yang kejam dari sebuah nasib bahwa seorang komponis paling berbakat sepanjang jaman harus tertimpa musibah ketulian semacam itu. Kalau saja Beethoven dengan kekuatan tekad non-manusiawi — dalam ketuliannya itu– terus tetap menjaga mutu komposisi musiknya, ini akan merupakan hal yang memukau dan brilian. Tetapi, kenyataan lebih mengherankan lagi ketimbang yang dibayangkan dalam masa tahun-tahun ketulian totalnya, Beethoven melakukan ciptaan tidak sekedar setarap dengan apa yang dihasilkan sebelumnya, melainkan umumnya dianggap merupakan hasil karya terbesarnya. Dia meninggal di Wina tahun 1827 pada usia lima puluh tujuh tahun.

Saudaraku, apakah kamu sudah memiliki semangat berkarya seperti beliau?apakah engkau sudah berjuang untuk mencapai impianmu?tekadkan hatimu mulai saat ini,berjuanglah saudaraku,jadikanlah dunia ini sebagai ladang beramal untuk akhiratmu kelak..

“Beribadah,bekerja,belajar,dan beramalah”


Sehebat apapun manusia, ia pasti akan mati…Setinggi apapun derajat sosial manusia, ia pasti akan melewati lorong kematian.Manusia mencari-cari harapannya, mengejar impiannya, mengaisi kisah-kisah masa depannya.Kesana kemari membangun bangunan raksasa yang diambisiinya.Hari-hari terus bergerak menuntun manusia menemukan apa yang dikehendakinya.Kehendak manusia akan terus bergulir tanpa ujung, terpenuhi satu kehendak akan melahirkan kehendak lainnya, terus-menerus, bertubi-tubi,beruntun hingga nafas tak lagi kuasa meneruskan perjalanan.Apa yang kaucari wahai jiwa yang terhuyung-huyung dengan jasadnya?Hendak kaukemanakan jasad ini?

Beribu-ribu topeng berganti-ganti menutupi wajah
ini, beribu-ribu baju kebusukan silih berganti menutupi kejujuran hati
sehingga kelak saat lorong jalan ini sampai ke terminal akhirnya,
tinggal sang diri tersisa hanya onggokan yang tak berharga di padang mahsyar ...


Wassalamualaikum…..

Satu Tanggapan

  1. Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: