Kehancuran Negara Bani Israel Makin Dekat

Penyerbuan Israel terhadap Gaza beberapa waktu kian menunjukkan tabiat mereka sebagai bangsa yang biadab. Dalam serangan selama tiga pekan itu, Israel tidak membedakan objek sasarannya. Anak-anak, wanita, orang tua, dan orang sakit yang tidak berdaya pun menjadi sasarannya. Banyak gedung, rumah, sekolah, rumah sakit dan infrastruktur yang hancur. Tak ketinggalan, banyak masjid juga menjadi sasaran keganasan Israel. Bahkan negara Zionis itu menggunakan fosfor putih yang amat merusak. Kawasan yang sudah lama dipenjara dalam tembok buatan Israel itu pun luluh lantak.

Bukan sekali ini saja mereka melakukan kebiadaban. Sejak bangsa itu merampas tanah Palestena, telah banyak kaum Muslim yang menjadi korbannya. Berbagai kerusakan yang dilakukan Israel itu sesungguhnya kian mendekatkan mereka kepada kehancuran. Berkaitan dengan hal ini dapat disimak dalam firman Allah Swt:

وَقَضَيْنَا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا (4) فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ أُولَاهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَنَا أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُوا خِلَالَ الدِّيَارِ وَكَانَ وَعْدًا مَفْعُولًا (5) ثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ وَأَمْدَدْنَاكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيرًا (6) إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآَخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا (7)

Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israel dalam kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar. Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai (QS al-Isra’ [17]: 4-7).

Dalam ayat ini diberitakan bahwa Bani Israel akan melakukan dua kali kerusakan besar di muka. Sebagaimana dijelaskan Ibnu Jarir al-Thabari, kata latufsidunna bermakna lata’shinna (sungguh-sungguh kalian berbuat maksiat). Sementara lata’lunna uluww[an] kabîr[an] berarti latastakbiranna ‘alâl-Lâh bi ijtirâikum ‘alayhi istikbar[an] syadîd[an] (menyombongkan diri dengan kesombongan yang sangat di hadapan Allah dengan berbuat lancang terhadap-Nya). Di hadapan Allah Swt mereka menolak untuk taat, di hadapan manusia mereka berbuat dzalim dan melampaui batas.

Menurut sebagian mufassir, kejahatan besar itu terjadi di masa silam. Sesudah mereka melakukan berbagai kejahatan, seperti membunuh Nabi Zakaria, didatangkan kepada mereka pihak yang mengalahkan mereka. Mereka adalah Jalut dan tentaranya. Lalu mereka diberi kesempatan mengalahkan Jalut dan tentaranya kembali melalui tangan Dawud as. Ada juga yang menyatakan, mereka dihancurkan oleh pasukan Nebukadnezar, Raja Babilonia. Sebagian lainnya menafsirkan, kaum yang menghancurkan mereka adalah Raja Sinhareb dari Assuria. Lainnya lagi menunjuk bangsa Amaqilah yang tinggal di palestina sebagai pelakunya.

Jika dicermati, ada beberapa alasan yang menunjukkan bahwa pendapat-pendapat itu tidak tepat.

Pertama, dari segi waktu kejadian. Dalam ayat ini digunakan lafadz latufsidunna dan wata’lunna. Keduanya adalah al-fi’l al-mudhâri’ yang mengandung pengertian sekarang dan akan datang. Hal ini diperkuat dengan huruf al-lâm di awal kedua al-fi’l al-mudhâri’. Menurut Syekh As’ad Bayudh al-Tamimi, huruf al-lâm tersebut memberikan makna akan datang dan bersifat kepastian. Sehingga makna kata latusidunna dan lata’lunna adalah kalian pasti akan melakukan kerusakan dan kalian pasti melakukan kesombongan. Ini berarti, ketika ayat ini diturunkan, peristiwa itu belum terjadi, bukan sebelumnya. Sementara peperangan dengan Jalut atau pembantaian oleh Nebukadnezar dilakukan jauh sebelum ayat ini turun. Oleh karena itu tidak tepat jika ayat ini merujuk kepada kejadian di masa silam.

Memang masih terbuka peluang penafsiran untuk umat di zaman dulu manakala kata al-Kitâb dalam ayat ini diartikan Taurat atau Lawh al-Mahfûzh. Namun jika dikaitkan dengan makna keseluruhan janji dalam ayat ini –sebagaimana dijelaskan dalam paparan berikutnya–, maka kata al-Kitab tersebut lebih tepat dimaknai al-Quran.

Kedua, pihak yang mengalahkan Bani Israel. Dalam ayat ini disebutkan bahwa pihak yang dibangkitkan Allah Swt untuk mengalahkan mereka ketika mereka melakukan kerusakan pertama adalah ‘ibâd[an] lanâ. Dalam al-Quran, lafadz ‘abd yang disandarkan dengan Allah Swt, hanya digunakan untuk manusia yang menghambakan diri kepada-Nya. Sehingga, lafadz tersebut menunjuk kepada orang-orang Mukmin yang shalih. Dalam ayat pertama surat ini, misalnya digunakan lafadz bi ‘abdihi untuk menyebut Rasulullah saw. Demikian juga dalam firman Allah Swt:

وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا

Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadah), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya (QS al-Jinn [72]: 19).

Kata ‘abdinâ yang menunjuk kepada Rasulullah saw juga terdapat dalam QS al-Baqarah [2]: 23. Kata tersebut juga digunakan untuk Nabi Nuh dan Nabi Luth dalam QS al-Tahrim [60]: 11. Digunakan juga untuk menyebut Nabi Ibrahim, Nabi Ishaq, dan nabi Ya;qub (lihat QS Shad [38]: 45). Tentang ‘ibâd al-Rahmân, Allah Swt juga berfirman:

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik (QS al-Furqan [25]: 63).

Dalam beberapa ayat selanjutnya, karakter ‘ibâd al-Rahmân digambarkan sebagai hamba Allah yang shalih. Bertolak dengan kenyataan tersebut, maka lafadz ‘ibâd[an] lanâ yang akan mengalahkan Bani Israel itu tidak tepat jika dinisbahkan kepada Jalut dan tentaranya, Nebukadnezar dari Babilonia, Raja Sinhareb dari Assuria, bangsa bangsa Amaqila.

Digunakannya kata ba’atsnâ (Kami bangkitkan) makin menguatkan bahwa hamba Allah Swt yang mengalahkan mereka pada kerusakan pertama yang mereka lakukan itu adalah orang-orang yang diridhai-Nya. Kata ba’atsa, bisa berarti menghidupkan setelah kematiannya. Bisa pula berarti arsala (mengirimkan). Dalam al-Quran, semua kata ba’atsnâ ­–yakni kata ba’atsa yang di-mudhaf-kan kepada Allah Swt– disebutkan dalam konteks pujian. Mereka adalah para nabi dan rasul, orang-orang shalih, dan pemberi peringatan. Allah Swt berfirman:

ثُمَّ بَعَثْنَا مِنْ بَعْدِهِ رُسُلًا إِلَى قَوْمِهِمْ فَجَاءُوهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ

Kemudian sesudah Nuh, Kami utus beberapa rasul kepada kaum mereka (masing-masing), maka rasul-rasul itu datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata (QS Yunus [10]: 74).

Allah Swt berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu” (QS al-Nahl [16]: 36).

Allah Swt berfirman:

وَلَوْ شِئْنَا لَبَعَثْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ نَذِيرً

Dan andai kata Kami menghendaki, benar-benarlah Kami utus pada tiap-tiap negeri seorang yang memberi peringatan (rasul) (QS al-Furqan [25]: 51).

Dengan demikian, hamba yang dibangkitkan Allah Swt untuk mengalahkan Bani Israel adalah kaum Mukmin. Bukan dari kalangan kaum kafir, seperti Nebukadnezar, Jalut, dan sebagainya.

Ketiga, rangkaian peristiwa. Dalam ayat ini, peristiwa yang melibatkan Bani Israel sebagai pelaku kekerasan dan ‘ibâd[an] lanâ sebagai pihak yang dibangkitkan untuk mengalahkan Bani Israel berkelanjutan; mulai dari kerusakan pertama hingga kerusakan kedua.

Diberitakan ayat ini, setelah Bani Israel melakukan kerusakan besar di muka bumi, lalu dibangkitkan ‘ibâd[an] lanâ untuk mengalahkan dan menghukum mereka. Kelak kemudian hari, Bani Israel diberi kesempatan lagi untuk mengalahkan pihak yang dulu menghukum mereka pada kerusakan pertama. Dalam ayat ini disebutkan:

ثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ وَأَمْدَدْنَاكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيرًا

Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar (QS al-Isra’ [17]: 6).

Frasa radadnâ lakum al-karrah ‘alayhim (Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali). Dhamîr hum (kata ganti mereka) merujuk kepada ayat sebelumnya. Mereka tidak lain adalah ‘ibâd[an] lanâ. Mereka yang sebelumnya mengalahkan Bani Israel, selang beberapa waktu kemudian akan dikalahkan Bani Israel. Peristiwa itu terjadi agak lama setelah kerusakan pertama. Sebab, dalam ayat ini digunakan kata tsumma yang memberikan makna li al-tartîb ma’a al-takhalli (urutan peristiwa disertai dengan senggang waktu). Setelah mereka melakukan kerusakan kedua, maka mereka kembali dikalahkan kaum yang sebelumnya menghukum mereka pada kerusakan kedua. Itu artinya, peristiwa yang diberitakan dalam ayat ini merupakan rangkaian yang berkelanjutan.

Bertolak dengan kenyataan tersebut, jika ditafsirkan bahwa pihak yang yang menghacurkan mereka adalah Jalut atau Nebukadnezar jelas tidak tepat. Sebab, pertikaian di atara mereka tidak berlanjut kepada generasi-generasi berikutnya. Bangsa Babilonia sudah lama menghilang. Demikian dengan Jalut dan tentaranya.

Dengan tiga alasan tersebut, maka penafsiran yang menjelaskan bahwa berita dalam ayat tentang kerusakan Bani Israel sudah terjadi sebelum turunnya ayat ini tidak tepat. Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.

Sumber:(Rokhmat S. Labib; Ketua Lajnah Tsaqafiyyah Hizbut Tahrir Indonesia)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: